Jeruk Baby, Buah Lokal tanpa Serangan Impor

Petani jeruk di Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, memanen Jeruk Baby. Jeruk lokal ini menjadi primadona karena harga jualnya yang tinggi dan tidak tersaingi produk impor.

Senyum Junari, 54, sumringah saat menyaksikan tanaman jeruk baby miliknya berbuah ranum. Tangannya cekatan meraih satu demi satu buah jeruk berukuran besar- besar dengan warna kulitnya mulai menguning.

Tak terasa, sekeranjang bambu sudah penuh. Maklum saja, tanaman jeruk baby milik Junari di Dusun Princi, Desa Gadingkulon, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang tak hanya berukuran besar buahnya, tapi juga lebat. ”Ini musim panen pertama saya. Syukur alhamdulilah, buahnya bagus,” kata Junari tersenyum puas. Siang itu, Junari dibantu enam pekerja. Seperti Junari, mereka pun memilah jeruk-jeruk terbaik yang memang sudah layak dipanen. Jeruk yang warna kulitnya masih hijau dibiarkan di pohon, sambil berharap masih bisa dipanen beberapa hari lagi.

Silih berganti mereka mengambil jeruk ranum di setiap tangkai pohon tersebut. Di atas lahan seluas 1.700 meter persegi itu, Junari menanam sedikitnya 160 batang pohon jeruk baby. ”Pada kondisi bagus seperti saat ini, untuk sekali panen bisa menghasilkan 7–9 kuintal jeruk. Selama musim panen, bisa dilakukan 5-10 kali petik,” ujarnya. Saat ini, harga jeruk baby di pasaran memang sedang bagus- bagusnya. Untuk satu kilogram harganya Rp3.500 di tingkat petani. Dari harga jual itu, petani masih bisa mengambil keuntungan sekitar Rp2.000 per kilogram.

Namun bila harga sudah jauh di bawah angka tersebut, Junari mengaku rugi. Sebab apa yang diperoleh tak sebanding dengan ongkos produksi. Risiko terbesar petani pada budi daya jeruk baby adalah jamur. Mengingat, jamur bisa membuat pohon jeruk mati. Risiko paling buruk selain mati, jamur tersebut juga bisa merusak bunga dan bakal buah. Risiko ini akan semakin besar terjadi pada musim penghujan, saat kondisi kelembaban sangat tinggi. Pada saat musim penghujan, kegiatan penyemprotan akan semakin tinggi.

Pada masa tanam, Junari membutuhkan biaya produksi Rp14 juta. Biaya ini terbagi atas penyediaan pupuk organik di awal musim tanam sebesar Rp2 juta dan biaya penyemprotan obat dan honor tenaga penyemprotnya. ”Sekali penyemprotan butuh biaya sekitar Rp300.000. Padahal selama tanam hingga panen butuh sedikitnya 40 kali penyemprotan agar tanaman bisa berbunga dan berbuah baik,” ujarnya.

Satu keuntungan jeruk baby adalah tidak adanya buah impor pesaingnya. Tidak ada pemodal besar yang campur tangan dengan mengimpor buah dari luar negeri. Namun petani tak bisa menetapkan harga jual sendiri. Wiriono, 53, petani lain mengatakan, selama ini harga ditetapkan pedagang buah. Petani malah tak bisa membuat penawaran. “Kalau kami pasang harga agak tinggi, pedagang memilih beralih ke petani lain. Sementara kalau dibiarkan, buah membusuk dan tak laku dijual,” ujarnya.

Jeruk baby sudah sejak lama menjadi idola bagi para petani di lereng pegunungan Kawi. Selain lebih kebal penyakit dan jamur, buah buahnya belum tergoyahkan oleh produk impor seperti apel dan durian.

Jika anda berminat untuk membeli alat pemeras jeruk, silahkan lihat disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *